john wage saleh
Siapa yang bisa memberi jaminan kepastian disini
bahkan usia pun tak jelas batasnya
Ah nasib masa depan digantung diujung pensil
keterperangahanmu bising mengutuk langit
Tapi semuanya terlanjur sampai
sekali lonceng dibunyikan pantang balik pulang
ijtihad dan do'a menjadi ruh di hati setiap unjung pensil
barangkali memang tak boleh disesali
datanglah pada sisa waktu yang tercampakan
menuju sampai, menggenggam usai.
*) dibacakan oleh HS mukafa pada malam perenungan di gemolong
Kamis, 11 Maret 2010
Mengintip Kiamat dari Rasio Jumlah Laki-laki dan Jumlah Perempuan

Topik tentang perbandingan angka harapan hidup laki-laki dan perempuan memang sudah sangat umum tapi kemudian beberapa orang bisa saja salah tafsir tentang ini yang dikaitkan dengan semakin dekat akan datangnya kiamat karena lebih banyak laki-laki yang mati dari pada perempuan. artikel ini semata-mata hanya sedikit menginformasikan serta menjabarkan dengan sudut pandang biologis. Bagaimana seharusnya melihat persoalan bahwa rasio jumlah laki-laki dan perempuan yang dijadikan sebagai tanda semakin dekat datangnya kiamat itu bukan dari segi kematian yang dialami oleh laki-laki dalam jumlah yang besar tetapi lebih fokus pada kelahiran.
Data-data kependudukan menunjukan bahwa angka harapan hidup laki-laki sebesar 65 sedangkan angaka harapan hidup perempuan adalah 70, artinya rata-rata laki-laki akan meninggal pada usia 65 tahun sedangkan perempuan akan meninggal pada usia 70 tahun. Hal ini tentunya sangat beragam antar daerah dengan faktor-faktor yang khas pada setiap daerah. Dan angka harapan ini merupakan salah satu indikator untuk mengukur hasil pembangunan sumberdaya manusia. trend yang semakin naik dari regresi beberapa tahun pengamatan data akan memberikan kesimpulan bahwa proses pembangunan yang dijalankan terhitung berhasil.
Dalam rangka menjelaskan secara biolgis mengapa laki-laki cenderung menanggung resiko kematian lebih besar daripada perempuan ada dua hal yang mempengaruhi yaitu genetik dan hormon. Dapat dilihat pada bayi 12 bulan pertama bayi laki-laki cenderung mengalami kematian dalam jumlah yang lebih besar dibandingkn dengan bayi perempuan. hal ini semata bukan merupakan kebetulan bila dilihat lebih jauh dengan mereduksi fakto-faktor ekternal yang dialami oleh bayi.
Senin, 08 Maret 2010
Kamis, 04 Maret 2010
Sabtu, 27 Februari 2010
Poem's Eksperiment

john wage saleh
Sulit dijelaskan bahwa ini adalah sebuah puisi menurut saya. tapi beginilah puisi bukahlah baris baris kalimat saja melainkan perwujudan dari sebuat pesan tersirat dari segala hal yang lebih komplek. lagi-lagi ini menurut saya, entah menurut orang lain, ini patut disebut puisi atau tidak? puisi ini sudah saya abadikan di antologi puisi saya yang pertama "Do'a seorang Pencuri"
Poem's Eksperiment

john wage saleh
Apakah ini sebuah puisi? tapi saya sudah menganggapnya sebagai puisi. suatu waktu kita atau mungkin hanya aku yang kesulitan untuk menggambarkan rasa dengan abjad-abjad berbait-bait. inilah yang terjadi ketika kita atau mungkin hanya aku mulai bertutur dengan gambar. dan menganggapnya sebagai puisi.
Ziarah Cinta
john wage saleh
Kau ziarahi aku lagi di permakaman kamboja merah
keranjang sejarah kita dengan menabur kelopak kelopak mawar grimis tangis yang memangil manggil rinduku pada jasad cinta yang dibalut kain putih kusam dalam gunduk tanah hening
Nisan penuh lumut kenangan masalalu.
sepanjang kealphaan sapa, cinta membujur mayat, kiranya sayup nafasmulah membangkitkan rinduku juga rindumu menggelayut pada akar beringin. Atau bibirmu yang senantiasa berbisik rindu pada tepi tepi kubur hingga altar runtuh.
Aku ingin kau ingat. sama-sama kita patrikan nama cinta pada nisan dan mengikhlashkanya abadi.
Jogja, 280110
Kau ziarahi aku lagi di permakaman kamboja merah
keranjang sejarah kita dengan menabur kelopak kelopak mawar grimis tangis yang memangil manggil rinduku pada jasad cinta yang dibalut kain putih kusam dalam gunduk tanah hening
Nisan penuh lumut kenangan masalalu.
sepanjang kealphaan sapa, cinta membujur mayat, kiranya sayup nafasmulah membangkitkan rinduku juga rindumu menggelayut pada akar beringin. Atau bibirmu yang senantiasa berbisik rindu pada tepi tepi kubur hingga altar runtuh.
Aku ingin kau ingat. sama-sama kita patrikan nama cinta pada nisan dan mengikhlashkanya abadi.
Jogja, 280110
Minggu, 21 Februari 2010
Kesumat
sedih. goyah aku ngenas
terbayang jemari perempuan
yang melambai. ruas buku-buku retak
dan silang siur garis tangan riuh kusut
tertumbuk pecahan kaca menghalau gerimis batu.
setelah ritual berlalu melebur kecemasanmu
menjadi limbah menggerus nadzarmu terkapar dalam hisapan pasir.
tenangkan hatimu.
sesaji sesaji cinta yang kau taruh didepan pintu rumahku
bertahun telah pecah, karam menepi.
tapi siapa yang tidak iba
melihat kau menyayat pelupukmu
membasuhkan butir garam pada luka
menguliti kelopak kepalamu
lehermu yang terbelit duri duri kawat
darah mengucur membajiri jalan yang kau lewati bersamanya.
coba kau beberkan resahmu
atau beranjak dari kepasrahan
aku tidak bisa, keluhmu
aku berharap serpih serpih salju yang kupanjatkan
akan memberi jawab kesucian nadzar
tak perlu berbalas batu
kau tidak bisa?
aku tahu kau tak menginginkan cemara cemaramu tumbang
petir menghujat tingkahmu
juga jalan pajang retak lengang mengutuk sesal
dan aku kini beku bisu
ku-eja basah sembab pelupukmu
menunggu sesuatu yang tak terwakili kata-kata.
Jogja, feb. 2010
terbayang jemari perempuan
yang melambai. ruas buku-buku retak
dan silang siur garis tangan riuh kusut
tertumbuk pecahan kaca menghalau gerimis batu.
setelah ritual berlalu melebur kecemasanmu
menjadi limbah menggerus nadzarmu terkapar dalam hisapan pasir.
tenangkan hatimu.
sesaji sesaji cinta yang kau taruh didepan pintu rumahku
bertahun telah pecah, karam menepi.
tapi siapa yang tidak iba
melihat kau menyayat pelupukmu
membasuhkan butir garam pada luka
menguliti kelopak kepalamu
lehermu yang terbelit duri duri kawat
darah mengucur membajiri jalan yang kau lewati bersamanya.
coba kau beberkan resahmu
atau beranjak dari kepasrahan
aku tidak bisa, keluhmu
aku berharap serpih serpih salju yang kupanjatkan
akan memberi jawab kesucian nadzar
tak perlu berbalas batu
kau tidak bisa?
aku tahu kau tak menginginkan cemara cemaramu tumbang
petir menghujat tingkahmu
juga jalan pajang retak lengang mengutuk sesal
dan aku kini beku bisu
ku-eja basah sembab pelupukmu
menunggu sesuatu yang tak terwakili kata-kata.
Jogja, feb. 2010
Langganan:
Postingan (Atom)





