Kamis, 22 Juli 2010

gepeng Semprul !

Dia baru saja duduk.Nampaksangat lelah dengan raut muka yang misterius dipertajam dengan garis-garis wajah yang tegas seperti mengalami penderitaan batin dalam. Sesekali dia menatap wajah orang lalu-lalang lantas kembali menunduk.

Seorang tua dengan badan bungkuk, tongkat dan bungkusan plastik kresek hitam yang selalu dirahasiakan apa yang ada didalamnya. Baju compang-camping, sandal beda warna dan ukuran antara kiri dengan kanan yang selalu saja tak pernah mampu ia angkat lebih dari satu sentimeter hingga sangat dihafal irama langkahnya. sreek..sreek..srekk. tidak bisa dicari alasan pembenaran bahwa dia adalah konglomerat yang iseng atau mencari sensasi, dia adalah seorang tua yang menderita dan harus mempertahankan hidup.

Senin, 19 Juli 2010

HOME OF THE BRAVE

Beberapa repertoar ditampilkan oleh musisi-musisi dengan istrument dasar gamelan pada Festival Gamelan Jogjakarta. Sangat banyak dan menarik olahan musik yag disajikan tetapi kenapa gamelan yang pilih sebagai dasar utama repertoar. Alasanya adalah untuk menggugah kembali minat terhadap gamelan dan filosofi gamelan itu sendiri.

Ada sedikit ketakutan tentang adanya gamelan yang semakin tersisih awalnya. Pertama, apakah gamelan masih ada? selanjutnya apakah gamelan masih diminati dan apakah gamelan masih dimainkan. Tidak sekedar melestarikanya saja dianggap sebagai hal yang cukup karena gamelan sebagai instrument atau alat musik hakekatnya dalah untuk dimainkan.

Rabu, 07 Juli 2010

Rumah 2

kau ajak aku pada sebuah rumah
dinding dinding rindu dan segala pintu yang selalu tak pernah terkunci
setiap kamar berbau makam
dimana keibaan lahir tiba tiba

apa yang membuatmu bertahan?
         aku atau puisi yang kau tulis pada dinding?
sama sama kita pernah lalui jalan beraspal
gang gang sempit juga pematang saat musim panen

tapi bukankah keibaan bisa saja menjadi sia sia
juga keterperangahan
                   
                                       apakah kau tidak sedang menipuku?
                                       kini aku seperti tertawan
            
           sudahlah. rumah itu sebentar saja akan juga rubuh.          

mrican, 2010